Pemasaran dengan digital ads memang efektif untuk mendatangkan prospek dalam waktu cepat. Namun terkadang hasil yang didapatkan tidak seefektif yang dikira, pelajari bagaimana cara mengoptimalkannya dengan strategi funnel.
Pernah mengalami masalah dimana jumlah prospek yang didapatkan banyak tapi tingkat closing yang terjadi sangat kecil? Mungkin Anda melupakan marketing funnel dari prospek yang Anda miliki!
Apa Itu Funnel?
Funnel merupakan definisi dari perjalanan calon prospek, mulai dari pertama kali mereka berinteraksi dengan brand sampai sah menjadi customer. Dalam digital marketing, funnel sering digunakan sebagai dasar dari strategi retargeting/remarketing digital ads.
Secara umum funnel terbagi menjadi 4 tahap: Attention, Interact, Desire, dan Action atau disingkat AIDA. Setiap funnel berisi pelanggan-pelanggan tertentu sesuai dengan pengalaman mereka terhadap brand yang Anda kelola.
Bagaimana Implementasi Funnel?
Tadi sudah dituliskan bahwa setiap funnel berisi orang-orang dengan pengalaman yang berbeda. Kebutuhan orang yang ada di tahap Attention tentu akan berbeda dengan yang ada di tahap Interact, dan seterusnya.
Funnel memungkinkan Anda untuk mensegmentasi calon prospek menjadi beberapa kategori, sehingga Anda bisa memberikan pengalaman yang relevan kepada mereka sesuai tahapnya.
Sebagai contoh sederhana, jika Anda memiliki sebuah bisnis solusi keuangan, Anda tentu tidak mungkin langsung menawarkan produk begitu saja kepada mereka yang masih belum paham kepada keuangan kan? Memberikan informasi produk investasi reksadana kepada mereka yang sama sekali belum tahu bagaimana cara kerjanya, tentu tidak masuk akal.
Bukan saja mereka tidak akan membeli, mereka pun juga tidak akan paham apa yang Anda bicarakan. Karena itu, idealnya kita bisa memulai dengan memberikan informasi reksadana secara umum terlebih dahulu.
Tentu saja implementasi funnel sangatlah luas, dan bisa berbeda antara industri satu dengan industri lainnya. Agar Anda bisa memahami implementasi funnel lebih lanjut, Anda bisa melihat beberapa contoh kasus yang kami sajikan di bawah ini:
E-Commerce: Dari Add To Cart ke Purchase
Pengalaman belanja di e-commerce tentu berbeda dengan berbelanja langsung di supermarket. Salah satu pembeda utamanya adalah: calon pembeli bisa melakukan perbandingan seluas-luasnya, tanpa terhalang ruang seperti lokasi maupun jenis toko.
Ini membuat banyak distraksi bisa terjadi ketika calon pembeli sedang mencari barang. Dan tidak jarang juga ada pembeli yang melihat-lihat, tapi kemudian tidak melakukan aksi apa-apa, karena memang hanya sekadar cek-cek barang saja.
Namun ada juga mereka yang memutuskan untuk menambahkan barang mereka ke cart atau keranjang belanja mereka. Calon pembeli ini tentu sudah selangkah lebih dekat ke pembelian.
Tapi sekali lagi, e-commerce adalah platform yang banyak distraksi. Terkadang calon pembeli bisa meninggalkan keranjang mereka begitu saja, dan lupa melakukan checkout.
Dengan funnel, Anda bisa mensegmentasikan mana calon pembeli yang memang hanya melihat-lihat dan mana calon pembeli yang memang sudah siap beli tapi lupa melakukan checkout. Sehingga Anda bisa menarget dan mengingatkan kembali orang-orang yang meninggalkan keranjang belanja mereka.
Tentu saja ada banyak jenis pendekatan yang bisa Anda berikan, seperti diskon atau promo spesial yang mempengaruhi calon pembeli untuk segera melakukan checkout
Edtech: Dari Install ke Pembelian
Tidak semua orang siap merogoh kocek untuk membeli serangkaian kelas online. Apalagi mengingat stigma kelas online yang masih dipandang sebagai sumber ilmu ‘kelas dua’, membuat penyedia kelas online harus memikirkan cara bagaimana meyakinkan para calon pembelinya untuk segera membeli kelas tertentu.
Baca juga: Berbagai Kemudahan Bisnis di Era Digital, Mulai Dari Funnel Marketing Hingga Integrasi
Dan disinilah funnel akan bermain peran. Dengan funnel, penyedia layanan bisa mengkategorikan para calon pengguna yang berada di tahap pengenalan produk, sudah melakukan install aplikasi, sudah melakukan sign up, dan siap melakukan pembelian. Penyedia aplikasi lalu bisa memberikan informasi promosi yang sesuai dengan tahapan dimana calon pengguna mereka berada.
B2B: Dari Download Data ke Leads
Industri B2B atau business to business dikenal sebagai pasar yang lumayan alot. Bayangkan saja, sebuah bisnis mungkin memerlukan waktu berbulan-bulan dari tahap pengenalan sampai akhirnya deal menjadi klien. Tentu saja waktu yang cukup panjang itu bisa menjadi celah dan membuat calon klien tidak jadi bertransaksi dengan Anda.
B2B sering menggunakan strategi funnel dengan melakukan pendekatan di awal, dan biasanya dengan menawarkan data yang bernilai atau valuable insight yang mereka miliki. Misalnya, konsultan industri manufaktur bisa memberikan data-data seputar improvisasi lini produksi sampai konsumen kepada calon klien mereka dengan imbal balik tertentu (biasanya berupa data leads; seperti email atau nomor telepon perusahaan).
Nantinya data yang didapatkan tadi bisa di-follow up secara konstan, baik lewat email marketing atau dengan metode pendekatan lain seperti free trial. Sehingga memastikan bahwa hubungan dengan calon klien tidak akan terputus, dan kemungkinan klien bounce akan jauh berkurang.
Optimalkan Funnel, Maksimalkan Konversi
Anda sudah mempelajari bagaimana pentingnya funnel di dalam bisnis, dan pertanyaannya apakah Anda sudah menerapkannya pada bisnis Anda? Memang bukan hal yang mudah untuk mendata pelanggan Anda menjadi segmen-segmen khusus, lalu memperbarui data tersebut setiap waktu. Namun tahukah Anda bahwa kehadiran CRM bisa membantu segmentasi funnel dari setiap prospek Anda secara otomatis?
Baca juga: Apa Itu CRM? Dan Bagaimana Cara Kerja CRM Untuk Perkembangan Bisnis Anda?
CRM atau Customer Relationship Software merupakan solusi yang disediakan dari Sasana Digital untuk membantu definisi dan eksekusi marketing funnel Anda. Gunakan CRM dengan teknologi terlengkap, agar Anda bisa berinteraksi dengan setiap prospek sesuai tahap pengalaman mereka secara praktis!
Ingin tahu cara kerjanya? Kunjungi halaman solusi CRM untuk bisnis kami!